Biasanya para emak kalau ketemu dimana saja pasti pembahasannya gak jauh lari soal anak. Kalimat - kalimat : wah...udah berapa anggota ? Udah umur berapa anak kamu sekarang ? Sekolah dimana ? Udah bisa apa aja ? Dan lain - lain pertanyaan masalah sekolah, kecakapan dan kecantikan menjadi standart pembicaraan.
Saya juga begitu, tak pernah luput dari pertanyaan - pertanyaan standart tersebut.
"Anak saya gak sekolah, homeschooling..."
Bila mendapat jawaban seperti itu dari saya, kontan si penanya akan mengernyitkan dahi dan mengulang pertanyaan, "homeschooling.....?"
Yap, homeschooling (HS). Kegiatan ini sudah mulai saya terapkan sejak 2 tahun yang lalu. Namira sekarang berumur 6 tahun dan Dira 3 tahun. Di usia itu biasanya para orangtua udah gak sabar memasukkan anaknya ke TK atau SD, berlomba - lomba memberikan les tambahan agar si anak kalau bisa sekecil mungkin sudah bisa membaca, menulis dan menghitung. Nah...karena tak pernah mengenyam bangku TK, otomatis tak ada foto Namira memakai baju toga. Biarlah kecilnya tak pernah memakai toga, yang penting besarnya nanti pakai toga di salah satu Universitas ternama di dunia (ayo....bilang amin dong).
Awalnya sih saya juga gak tau menahu tentang HS. Mungkin bila orangtua lain memutuskan HS karena kesadaran penuh, saya sih beda, memutuskan HS karena keterpaksaan kondisi dan keadaan. Gimana gak terpaksa, suami tugasnya disebuah kabupaten pemekaran, namanya juga kota yang baru berkembang, semua fasilitas umum baik kesehatan dan pendidikan juga serba minim.
Saya katakan minim, bukan berarti tak ada sekolah formal atau non formal di kabupaten ini...(wah...bisa-bisa nanti pak bupati marah nih...). Ada sih ada, tapi tak ada yang sesuai keinginan.
Kalau ditanya "emang yang diinginkan seperti apa ?" Wah..bisa panjang nanti nih cerita. Namun sebagai seseorang yang pernah mengecap kejamnya ibukota dan membayangkan betapa bertebarannya fasilitas pendidikan disana, keadaan seperti ini membuat saya mencari alternatif pendidikan lain.
Mulai deh rajin-rajin buka internet, googling dan blogwalking dan akhirnya ketemu dengan kata "homeschooling".
Homeschooling.....
Arti awamnya sih sekolah dirumah. Pengucapannya keren tapi prakteknya cukup sulit juga. Dari hasil pemahaman saya, HS itu berarti si anak tidak mengikuti sekolah formal sebagaimana lazimnya anak-anak dinegeri ini. Para homeschooler biasanya sekolah dirumah, ntah mendatangkan seorang guru atau bisa juga orangtua yang menjadi pendidik langsung. Lalu ijazahnya bagaimana...? Nah itu dia pertanyaan yang membuat para orangtua gentar untuk menghomeschooling kan anaknya. Bukan rahasia lagi dinegeri ini, alasan utama sebagian orang bersekolah bukan untuk menuntut ilmu tapi menuntut ijazah.
Saya juga masih baru dalam praktek HS ini, untuk lebih jelas dan rinci saya ikut beberapa komunitas HS serta masih terus mencari situs - situs tentang keluarga HS yang bisa dijadikan teladan. Saya sering mengunjungi website www.rumahinspirasi.com. Semua pertanyaan tentang HS, ijazah, cara kerjanya dan seabrek pertanyaan tentang HS ada disitu. Bagi saya menemukan situs ini seperti menemukan harta karun. Banyak ilmu dan pembelajaran disitu. Yap....memang sesuai dengan namanya, benar-benar menginspirasi.
Dan untuk HS yang kami lakukan, berhubung Namira dan Dira masih kanak - kanak, pendidikan mendasar yang kami terapkan adalah membangun akhlak dan kepribadian. Urusan calistung hanya diberikan sambil lalu ketika mereka bertanya dan disajikan semenarik mungkin. Pada fase ini kami membebaskan mereka bermain.....bermain, mendongeng dan bereksperimen. Yah...kedengarannya memang asyik dan mudah dilakukan tapi dalam penerapannya orangtua harus mempunyai rasa sabar yang berlebih untuk memaklumi apa -apa yang mereka kerjakan. Dan mudah - mudahan kenangan masa kecil yang membahagiakan berpengaruh besar membentuk karakter positif mereka ketika dewasa.
Salah satu nilai plus HS disini, dengan kebersamaan orangtua dan anak tiap harinya secara otomatis membuat orangtua lebih mengerti karakter, gaya belajar serta dapat menganalisa keunggulan dan kelemahan anak dalam menerima pengajaran. Dan...yang paling menarik dari keseluruhan kegiatan HS ini adalah orangtua dituntut untuk lebih peduli, lebih canggih, lebih berwawasan, lebih mengembangkan diri, lebih menjaga diri....pokoknya lebih mempersiapkan diri untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena sejatinya anak -anak itu mengimitasi orangtua.
Akhirnya...salut buat para orangtua homeschooler yang berani keluar mainstream untuk masa depan anak yang lebih baik. Dan saya....masih harus membebek dari belakang dan juga bertekad memberikan yang terbaik buat kedua putri saya, walau kedepannya nanti harus di -mix antara sekolah formal dan HS. Apapun itu yang penting tetap belajar....belajar...dan belajar (jadi orangtua sesungguhnya).
Dan untuk HS yang kami lakukan, berhubung Namira dan Dira masih kanak - kanak, pendidikan mendasar yang kami terapkan adalah membangun akhlak dan kepribadian. Urusan calistung hanya diberikan sambil lalu ketika mereka bertanya dan disajikan semenarik mungkin. Pada fase ini kami membebaskan mereka bermain.....bermain, mendongeng dan bereksperimen. Yah...kedengarannya memang asyik dan mudah dilakukan tapi dalam penerapannya orangtua harus mempunyai rasa sabar yang berlebih untuk memaklumi apa -apa yang mereka kerjakan. Dan mudah - mudahan kenangan masa kecil yang membahagiakan berpengaruh besar membentuk karakter positif mereka ketika dewasa.
Salah satu nilai plus HS disini, dengan kebersamaan orangtua dan anak tiap harinya secara otomatis membuat orangtua lebih mengerti karakter, gaya belajar serta dapat menganalisa keunggulan dan kelemahan anak dalam menerima pengajaran. Dan...yang paling menarik dari keseluruhan kegiatan HS ini adalah orangtua dituntut untuk lebih peduli, lebih canggih, lebih berwawasan, lebih mengembangkan diri, lebih menjaga diri....pokoknya lebih mempersiapkan diri untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena sejatinya anak -anak itu mengimitasi orangtua.
Akhirnya...salut buat para orangtua homeschooler yang berani keluar mainstream untuk masa depan anak yang lebih baik. Dan saya....masih harus membebek dari belakang dan juga bertekad memberikan yang terbaik buat kedua putri saya, walau kedepannya nanti harus di -mix antara sekolah formal dan HS. Apapun itu yang penting tetap belajar....belajar...dan belajar (jadi orangtua sesungguhnya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar