Senin, 29 Desember 2014

craft....craft....craft....

Membuat keterampilan tangan atau craft sudah menjadi bagian aktivitas keseharoan kami. Sebagai ibu rumah tangga tulen, saya mempunyai banyak waktu untuk melakukan aktivitas ini. Namira dan Dira juga ikut melibatkan diri, walaupununtuk craft yang lumayan sulit keterlibatan mereka hanya sebatas mempersiapkan alat-alat, disuruh ambil ini itu, melihat proses pembuatan dan diakhiri sorak gembira karena karya baru telah selesai. Berikut sebagian gambar-gambar craft buatan kami. Rata-rata semua tutorial pembuatan craft tinggalsearching di google. Salah satu tempat craft bagus yang sering saya kunjungi adalah www.spoonfull.com.

Selasa, 09 Desember 2014

Jenis - jenis Kecerdasan (Multiple Inteligences)

Baru "ngeh" kalau ternyata kecerdasan juga banyak jenisnya. Habis...dulu - dulunya terbiasa dengan anggapan siapa yang dapat rangking 1 maka dialah yang paling cerdas. dan kasihan yang dapat rangking paling bontot, harus rela di cap anak bodoh ketika duduk dibangku sekolah.

Ternyata...eh ternyata, setiap anak yang terlahir itu cerdas. Masing - masing pribadi itu unik, spesial dan beda serta masing - masing pribadi dianugerahkan Tuhan jenis kecerdasan yang beda pula. tidak ada anak yang terlahir bodoh dan bila kemudian ada anak yang menjadi bodoh, mungkin orangtua yang gagal menemukan jenis kecerdasan anak tersebut. Maka tak salah jika saya katakan, setiap orang berpotensi jadi genius (bisa jadi sekaliber Bill Gates, Steven Jobs, Christian Ronaldo, Ahmad Dhani....eh yang terakhir masih lingkup Indonesia deh kayaknya), intinya semua bisa sukses bila menemukan dan mengembangkan kecerdasan yang dimilikinya.

Saya sih juga bukan seorang genius, hanya seorang emak biasa yang lagi berusaha mengantarkan anak - anaknya agar sukses sesuai bidang kecerdasannya dan mudah - mudahan tercapai.

Secara garis besar jenis kecerdasan itu antara lain :
  1. Kecerdasan Bahasa/Linguistik, yaitu kemampuan untuk menggunakan bahasa atau kata - kata secara efektif.
  2. Kecerdasan Logis/Matematis, yaiotu kemampuan menggunakan angka - angka, berpikir secara logika, menjawab secara logis dan membutuhkan jawaban yang logis pula.
  3. Kecerdasan Visual/Spasial, yaitu kemampuan menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai aspek dunia visual spasial.
  4. Kecerdasan Kinestetik, yaitu mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubu8h dan keterampilan dalam menangani benda.
  5. Kecerdasan Musikal, yaitu kemampuan menyerap, menghargai dan menciptakan irama dan melodi.
  6. Kecerdasan Interpersonal (Antar Pribadi), yaitu kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain.
  7. Kecerdasan Intrapersonal (kecerdasan dalam diri sendiri), yaitu kemampuan mengendalikan emosi dan dengan mudah mengakses perasaannya sendiri.
  8. Kecerdasan Naturalisasi, yaitu kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik.
Bila saya amati dan analisa keseharian Namira dan Dira, dari 8 jenis kecerdasan diatas, sepertinya Namira mempunyai kecerdasan dalam bidang bahasa. Namira (6 tahun) sangat senang bercerita, mendengarkan dongeng, senang membaca buku cerita, mudah menghapal, pandai merangkai kata - kata menjadi cerita serta sangat cepat mengenal bahasa asing. Memang sih...jadi cenderung cerewet, ribut dan gak pernah berhenti mengoceh.
Sementara Dira (3 tahun) selama ini masih ikut - ikutan sang kakak, belum terlalu nampak arah mana jenis kecerdasannya, masih samar - samar namun dibanding sang kakak nampaknya Dira lebih kreatif. Nanti seiring bertambahnya usia akan lebih jelas lagi cerdas dibagian mana gadis kecil saya ini.

Nah...bila sudah menemukan jenis kecerdasan masing - masing anak, saya tinggal mempelajari bagaimana cara mengembangkannya agar nantinya anak - anak saya ini bisa menjadi profesional berdasarkan jenis kecerdasannya. sekaligus dengan mengetahui hal ini, saya jadi lebih paham titik lemah dan titik unggul anak - anak saya, sehingga nantinya saya tidak akan marah - marah bila nilai matematika Namira rendah atau nilai musik Dira yang jeblok. Saya pribadi memang dari sekarang sudah menyiapkan bathin jika nantinya anak - anak saya agak kesulitan belajar di pelajaran tertentu, agak susah menyerap pelajaran tertentu dan saya juga sudah menyiapkan bathin jika nilai matematika Namira rendah serta sudah menyiapkan kesabaran agar tak memaksa Namira jago matematika (bisa paham karena saya juga lemot banget di matematika).

Inti dari mengetahui jenis kecerdasan ini menurut saya akan membuat para orangtua paham jalan pemikiran anak dalam belajar sehingga menghindari "kerja rodi" dalam belajar. Tak ada manusia yang sempurna, tak ada manusia yang tahu segala hal. Begitu juga anak - anak kita, jangan paksakan mereka harus bisa semua mata pelajaran. Biarlah unggul disatu bidang saja tapi diasah dan dikembangkan daripada bisa semua tapi cuma setengah - setengah.

Selasa, 02 Desember 2014

Homeschooling

Biasanya para emak kalau ketemu dimana saja pasti pembahasannya gak jauh lari soal anak. Kalimat - kalimat : wah...udah berapa anggota ? Udah umur berapa anak kamu sekarang ? Sekolah dimana ? Udah bisa apa aja ? Dan lain - lain pertanyaan masalah sekolah, kecakapan dan kecantikan menjadi standart pembicaraan.

Saya juga begitu, tak pernah luput dari pertanyaan - pertanyaan standart tersebut.
"Anak saya gak sekolah, homeschooling..."
Bila mendapat jawaban seperti itu dari saya, kontan si penanya akan mengernyitkan dahi dan mengulang pertanyaan, "homeschooling.....?"

Yap, homeschooling (HS). Kegiatan ini sudah mulai saya terapkan sejak 2 tahun yang lalu. Namira sekarang berumur 6 tahun dan Dira 3 tahun. Di usia itu biasanya para orangtua udah gak sabar memasukkan anaknya ke TK atau SD, berlomba - lomba memberikan les tambahan agar si anak kalau bisa sekecil mungkin sudah bisa membaca, menulis dan menghitung. Nah...karena tak pernah mengenyam bangku TK, otomatis tak ada foto Namira memakai baju toga. Biarlah kecilnya tak pernah memakai toga, yang penting besarnya nanti pakai toga di salah satu Universitas ternama di dunia (ayo....bilang amin dong).

Awalnya sih saya juga gak tau menahu tentang HS. Mungkin bila orangtua lain memutuskan HS karena kesadaran penuh, saya sih beda, memutuskan HS karena keterpaksaan kondisi dan keadaan. Gimana gak terpaksa, suami tugasnya disebuah kabupaten pemekaran, namanya juga kota yang baru berkembang, semua fasilitas umum baik kesehatan dan pendidikan juga serba minim.

Saya katakan minim, bukan berarti tak ada sekolah formal atau non formal di kabupaten ini...(wah...bisa-bisa nanti pak bupati marah nih...). Ada sih ada, tapi tak ada yang sesuai keinginan.

Kalau ditanya "emang yang diinginkan seperti apa ?" Wah..bisa panjang nanti nih cerita. Namun sebagai seseorang yang pernah mengecap kejamnya ibukota dan membayangkan betapa bertebarannya fasilitas pendidikan disana, keadaan seperti ini membuat saya mencari alternatif pendidikan lain.

Mulai deh rajin-rajin buka internet, googling dan blogwalking dan akhirnya ketemu dengan kata "homeschooling".

Homeschooling.....
Arti awamnya sih sekolah dirumah. Pengucapannya keren tapi prakteknya cukup sulit juga. Dari hasil pemahaman saya, HS itu berarti si anak tidak mengikuti sekolah formal sebagaimana lazimnya anak-anak dinegeri ini. Para homeschooler biasanya sekolah dirumah, ntah mendatangkan seorang guru atau bisa juga orangtua yang menjadi pendidik langsung. Lalu ijazahnya bagaimana...? Nah itu dia pertanyaan yang membuat para orangtua gentar untuk menghomeschooling kan anaknya. Bukan rahasia lagi dinegeri ini, alasan utama sebagian orang bersekolah bukan untuk menuntut ilmu tapi menuntut ijazah.  

Saya juga masih baru dalam praktek HS ini, untuk lebih jelas dan rinci saya ikut beberapa komunitas HS serta masih terus mencari situs - situs tentang keluarga HS yang bisa dijadikan teladan. Saya sering mengunjungi website www.rumahinspirasi.com. Semua pertanyaan tentang HS, ijazah, cara kerjanya dan seabrek pertanyaan tentang HS ada disitu. Bagi saya menemukan situs ini seperti menemukan harta karun. Banyak ilmu dan pembelajaran disitu. Yap....memang sesuai dengan namanya, benar-benar menginspirasi.

Dan untuk HS yang kami lakukan, berhubung Namira dan Dira masih kanak - kanak, pendidikan mendasar yang kami terapkan adalah membangun akhlak dan kepribadian. Urusan calistung hanya diberikan sambil lalu ketika mereka bertanya dan disajikan semenarik mungkin. Pada fase ini kami membebaskan mereka bermain.....bermain, mendongeng dan bereksperimen. Yah...kedengarannya memang asyik dan mudah dilakukan tapi dalam penerapannya orangtua harus mempunyai rasa sabar yang berlebih untuk memaklumi apa -apa yang mereka kerjakan. Dan mudah - mudahan kenangan masa kecil yang membahagiakan berpengaruh besar membentuk karakter positif mereka ketika dewasa.

Salah satu nilai plus HS disini, dengan kebersamaan orangtua dan anak tiap harinya secara otomatis membuat orangtua lebih mengerti karakter, gaya belajar serta dapat menganalisa keunggulan dan kelemahan anak dalam menerima pengajaran. Dan...yang paling menarik dari keseluruhan kegiatan HS ini adalah orangtua dituntut untuk lebih peduli, lebih canggih, lebih berwawasan, lebih mengembangkan diri, lebih menjaga diri....pokoknya lebih mempersiapkan diri untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena sejatinya anak -anak itu mengimitasi orangtua.

Akhirnya...salut buat para orangtua homeschooler yang berani keluar mainstream untuk masa depan anak yang lebih baik. Dan saya....masih harus membebek dari belakang dan juga bertekad memberikan yang terbaik buat kedua putri saya, walau kedepannya nanti harus di -mix antara sekolah formal dan HS. Apapun itu yang penting tetap belajar....belajar...dan belajar (jadi orangtua sesungguhnya).

Selasa, 25 Februari 2014

Test....test....


Hari pertama belajar ngeblog secara otodidak, browsing sana sini dan juga bingung sana sini. Namanya masih pemula, berantakannya banyak. Bagi para pemula seperti saya, bisa belajar buat blog bertahap di www.digitalmommie.com tinggal pilih mau yang free atau berbayar. Dan yang namanya belajar, langsung dipraktekkan makin cepat ilmu tersebut bertambah. Tulisan ini adalah awal praktek pertama saya buat blog. Harap maklum bila kebanyakan kacaunya, yah rapopo. Yang penting ikut andil dalam perkembangan teknologi. Namanya juga test....test....1...2...3.....dicoba. 

Berharap kedepannya blog ini akan terus berkembang dan saya terus semangat merawatnya. Blog ini akan saya pergunakan untuk berbagi tentang aktifitas keseharian kedua putri saya, Namira dan Dira, yap....mungkin sebagai alat pencatat proses perkembangan dan sekaligus bahan evaluasi pendidikan mereka. Yah...mudah - mudahan aja istiqomah dalam pengerjaannya. Karena dari semua faktor keberhasilan, yang paling penting adalah ketekunan.Oke...!!!